Perkebunan Kakao di Glenmore Banyuwangi

Diposting oleh PERKEBUNAN_86 on Jumat, 11 November 2011

Perkebunan Kakao di Glenmore Banyuwangi

kakao3Pada tanggal 16-18 Agustus 2009, KSU Pointer mengadakan rekreasi ke Daerah Kalibaru, Banyuwangi. Dalam perjalanan wisata ini, Kalibaru Cottages selaku penyelenggara wisata memberikan alternatif berwisata yang berbeda dari beberapa penyelenggara wisata lainnya. Wisata pendidikan (study tour) adalah nama untuk wisata yang diselenggarakan oleh Kalibaru Cottages. Kami diajak berkunjung ke beberapa perkebunan dan tempat pengolahan hasil kebun, diantaranya adalah perkebunan kakao dan tempat pengolahannya. Kunjungan ke perkebunan kakao dilaksanakan pada hari Selasa 18 Agustus 2009 pukul 10.30 setelah mengunjungi perkebunan karet. Perkebunan kakao yang kami kunjungi merupakan perkebunan milik swasta (PT. Glen More) yang terletak di Desa Glenmore, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, kira-kira 45 menit dari Kalibaru Cottages tempat kami menginap. Luas perkebunan kakao di Glenmore kira-kira mencapai 500 hektar. Peserta yang penasaran langsung berhamburan ke perkebunan yang menghasilkan makanan yang difavoritkan hampir semua orang ini. Melihat buah kakao yang sangat lebat dan mencari buah yang sudah masak merupakan suasana yang sangat berkesan. Wisata ini bukan hanya membuat kami senang, tetapi juga memberi kami wawasan baru tentang perkebunan kakao di Indonesia terutama Banyuwangi.
kakao55kakao44Kami sedang berlomba mencari kakao yang sudah masak
A. Jenis Kakao
Tanaman kakao (Theobroma Cacao L) atau lebih dikenal dengan nama cokelat berasal dari hutan di Amerika Serikat. Jenis tanaman kakao ada berbagai macam tetapi yang banyak dikembangkan sebagai tanaman perkebunan ada tiga, yaitu: criollo, forastero, dan trinitario.
1.    Criollo menghasilkan biji cokelat yang bermutu tinggi dan dikenal sebagai edel cocoa atau cokelat mulia. Kulit buah berwarna merah atau hijau, berbintil-bintil kasar dan lunak. Bijinya berbentuk bulat dan berukuran besar, kulit bijinya (kotiledon) berwarna putih waktu masih basah, biasanya digunakan sebagai bahan pembuatan cokelat bermutu tinggi.
kakao38Edel cocoa setelah dipanggang
2.    Forastero menghasilkan cokelat yang bermutu sedang, dikenal dengan bulk cocoa atau ordinary cocoa. Kulit buah berwarna hijau dan tebal. Bijinya tipis atau gepeng dan kulit bijinya (kotiledon) berwarna ungu waktu masih basah.
kakao37Bulk cocoa setelah dipanggang
3.    Trinitario merupakan campuran atau hibrida dari jenis criollo dan forastero sehingga cokelat jenis ini sangat heterogen baik warna kulit, bentuk biji, maupun mutunya.
Menurut keterangan pemandu, kakao di perkebunan Glenmore ini ada yang kulit buahnya merah, hijau, dan kuning yang menghasilkan jenis edel cocoa dan bulk cocoa. Kami bisa dengan mudah mengenali kakao dari warna kulitnya tetapi sangat sulit untuk membedakan mana yang edel dan mana yang bulk pada waktu kakao masih terbungkus kulit. Pada saat kami buka beberapa buah kakao yang sudah masak, semua bijinya tidak ada yang bulat dan berwarna putih, ini berarti semuanya termasuk bulk cocoa.
kakao39Edel cocoa berwarna lebih terang dibanding bulk cocoa
B. Bagian Tanaman Kakao
Tanaman kakao yang berasal dari biji (generatif) mempunyai akar tunggang yang tumbuh lurus ke bawah dan memiliki beberapa akar sekunder yang menyebar di sekitar pohon. Tanaman yang berasal dari stek tidak mempunyai akar tunggang tetapi mempunyai beberapa akar yang berfungsi seperti akar tunggang.
Tanaman kakao mempunyai cabang yang bersifat dimorphous (dua tipe cabang) yaitu cabang yang selalu tumbuh vertikal dan cabang yang selalu tumbuh horizontal. Batang kakao membentuk 3-6 cabang kipas yang bertemu pada satu titik yang disebut jorquette.
kakao2Cabang-cabang pada pohon kakao
Daun kakao berwarna hijau tua, berbentuk lonjong, dan kaku. Lebar dan panjang daun kakao tergantung kesuburan tanaman. Pada tanaman yang subur, panjang daun kakao bisa mencapai 30 cm. Daun muda ada yang berwarna hijau muda, hijau kemerahan, atau merah, tergantung jenis kakaonya.
kakao11kakao4Daun kakao yang masih muda
Tanaman kakao berbunga sepanjang tahun, tumbuh secara berkelompok pada bantal-bantal bunga yang menempel pada batang, cabang, dan ranting pohon. Setiap bunga mengandung benang sari dan putik yang berarti tanaman ini bersifat hermaprodit.
kakao8
kakao32Bunga kakao berkulit hijau dan bunga kakao berkulit merah
Kulit buah kakao ada yang berwarna hijau atau merah. Kulit yang berwarna hijau muda atau hijau tua akan berubah menjadi kuning pada waktu kakao sudah masak, sedangkan kakao yang berkulit merah pada waktu sudah masak akan berubah menjadi oranye. Buah kakao menjadi masak setelah 5-6 bulan dari proses penyerbukan. Setiap tongkol kakao forastero berisi 30-50 biji dengan berat 0,8 sampai 1,3 gram per biji.
2009-08-18-106kakao10Kakao berkulit merah dan kakao berkulit hijau
kakao42
kakao41Biji kakao jenis forastero dalam kondisi masih basah
C. Syarat Tumbuh Tanaman Kakao
Tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan ketinggian kurang dari 600 meter di atas permukaan laut. Lapisan tanah minimum setebal 90 cm, cukup gembur, banyak mengandung humus dan bahan organik, memiliki kadar hara yang tinggi dengan keseimbangan yang baik, memiliki pH 6-7,5, dan mengandung cukup air dan udara. Tumbuh dengan baik di daerah yang mempunyai suhu dan kelembaban seperti hutan tropis, yang memiliki curah hujan 1.300-1.500 mm/tahun.
Glenmore berada pada ketinggian 300 meter di atas permukaan laut. Udaranya yang sejuk, tanah yang gembur, dan tersedianya cukup air membuat daerah ini sangat cocok untuk dijadikan perkebunan kakao. Oleh sebab itu, kakao di Glenmore tumbuh subur dan berbuah lebat.
kakao29
kakao14
kakao56kakao24Kakao di Glenmore berbuah lebat
D. Pembibitan
Bibit kakao dipilih dari pohon yang sudah berusia lebih dari 10 tahun, sehat, berbatang kokoh, berbuah lebat. Bibit diambil dari buah yang bentuknya normal, tidak terserang penyakit, dan sudah masak. Kulit buah dibuka, biji diambil bagian poros atau tengah buah kira-kira satu tongkol diambil 20-25 biji saja. Biji dibersihkan lendirnya, dicuci dengan fungisida, dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah kering biji siap disemaikan. Biji cokelat hanya dapat bertahan maksimum 3 minggu setelah pemetikan. Benih disemaikan pada bedengan dengan jarak 2,5 cm x 5 cm. Bedengan ditutup dengan ilalang kering dan disiram setiap pagi dan sore. Setelah berumur 4-5 hari benih sudah mulai berkecambah dan setelah keping benih tersembul ke atas, bibit harus segera dipindahkan ke polibag dan disiram 2 kali sehari. Pemupukan dilakukan 14 hari sekali sampai bibit berumur tiga bulan.
Pada waktu berkunjung ke perkebunan kakao di Glenmore, kami tidak menemukan pembibitan kakao.
E. Penanaman Kakao
Bibit kakao ditanam pada usia kurang lebih 4 bulan. Lahan yang akan ditanami kakao dibuat lubang sedalam 30-80 cm tergantung pada tekstur tanahnya. Tanaman kakao membutuhkan pohon pelindung yang sebaiknya ditanam satu tahun sebelum penanaman kakao. Pohon pelindung yang paling baik untuk tanaman kakao adalah lamtoro. Jarak antar tanaman kakao adalah 3 m x 3 m, jarak antar tanaman pelindung adalah 3 m x 6 m, sedangkan jarak antara tanaman kakao dengan tanaman pelindung adalah 1,5 m.
kakao27kakao28Perkebunan kakao di Glenmore menggunakan lamtoro sebagai pohon pelindung
Pemupukan tanaman yang belum berproduksi adalah 2-3 kali dalam setahun tergantung kebutuhan, sedangkan untuk tanaman yang sudah berproduksi dilakukan dua kali setahun yaitu pada permulaan musim hujan dan pada akhir musim hujan.
F. Pemangkasan
Pemangkasan pada tanaman kakao ada tiga jenis, yaitu: pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan, dan pemangkasan produksi. Pemangkasan bentuk dilakukan pada waktu pohon kakao masih berumur kurang dari satu tahun. Pemangkasan bertujuan untuk mendapatkan cabang-cabang yang arahnya merata supaya pertumbuhannya seimbang. Pemangkasan pemeliharaan dilakukan pada usia kurang dari dua tahun. Pemangkasan ini bertujuan untuk membuang cabang yang kering, menggantung, melintang, atau terlalu rimbun. Pemangkasan produksi bertujuan untuk mendorong tanaman berproduksi maksimum. Pemangkasan ini dilakukan dengan membuang daun-daun yang terlalu lebat sehingga sinar matahari dapat mencapai tajuk yang lebih dalam. Dengan demikian dapat meningkatkan makanan dari daun untuk perkembangan buah kakao. Disamping itu dapat pula dilakukan pemangkasan pohon pelindung. Pemangkasan dilakukan pada pohon pelindung terlalu rimbun dan cabang-cabang yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Pemangkasan dilakukan satu tahun sekali pada awal musim hujan secara berselang seling antara pohon pelindung yang saling berdekatan supaya fungsinya sebagai pelindung tetap terjaga. Daun dan ranting yang sudah dipangkas ditaruh di bawah pohon kakao dan dibiarkan hancur menjadi pupuk organik.
kakao12
kakao26Pemangkasan ranting dan daun kakao untuk meningkatkan produksi
G. Hama dan Penyakit
Hama tanaman kakao antara lain: penggerek cabang, kepik penghisap buah, penggerek buah, kutu putih, ulat kantong, semut, dan toxoptera aurantii bayer. Di perkebunan Glenmore saya menemukan beberapa buah coklat yang diserang hama kutu putih (planococus citri) sehingga kulit buahnya menjadi rusak.
kakao5
kakao34Buah kakao yang terserang hama kutu putih
Pada cabang beberapa tanaman coklat saya lihat, ada kantong plastik yang menggantung. Menurut keterangan pemandu, kantong plastik ini berisi gula merah. Gula merah pada kantong plastik ini digunakan untuk menarik semut yang banyak berada di pohon kakao agar semut-semut itu tidak mengganggu perkembangan bunga kakao. Semut menyukai bunga kakao karena menurut keterangan yang kami peroleh bunga kakao ini rasanya manis.
kakao15
kakao16Kantong plastik berisi gula untuk menarik semut yang merusak bunga kakao
Beberapa penyakit pada tanaman kakao antara lain:
  • Busuk buah dan kanker batang yang disebabkan oleh cendawan Phytoptora palmivora butler. Biasanya ditandai dengan ujung buah yang berupa bercak hitam.
kakao7
Buah yang terserang penyakit busuk buah
  • Busuk buah diplodia yang meninggalkan spora berwarna hitam pada waktu buah yang terserang sudah mengering.
kakao22Bagian tanaman yang terserang busuk buah diplodia
  • Vascular steak dieback (VSD) disebabkan oleh jamur oncobasidium theobromae yang ditandai dengan bintik-bintik kecil berwarna hijau pada daun yang terinfeksi.
  • Bercak daun, mati ranting, dan busuk buah disebabkan oleh jamur colletotrichum sp. Serangan pada daun menyebabkan terjadinya bercak coklat yang dikelilingi lingkaran berwarna kuning.
kakao31Tanaman kakao yang terkena penyakit bercak daun
  • Busuk buah monilia yang disebabkan oleh cendawan monilia roreri cif. Biasanya menyerang buah yang masih muda yang ditandai adanya sekresi lendir pada buah.
kakao30Buah muda yang terkena penyakit monilia
  • Penyakit akar yang disebabkan oleh cendawan akar.
H. Panen
Pohon kakao sudah mulai belajar berbuah setelah berumur satu tahun, ini berbeda dengan kakao pada waktu pertama kali dikembangkan di Indonesia tahun 1990-an yang baru belajar berbuah pada umur 3 tahun. Setelah belajar berbuah, tahun-tahun berikutnya pohon kakao sudah mulai berbuah lebat. Buah yang masak ditandai dengan kulit buah yang berubah warna menjadi kuning atau oranye. Memetik buah kakao tidak boleh dilakukan dengan memutar tangkai buah karena bisa merusak bantalan buah. Pemetikan dapat dilakukan dengan menggunakan pisau atau sabit dengan cara memotong tangkai dekat bantalan buah dengan hati-hati.
kakao20kakao25
kakao33
kakao40Kulit buah kakao yang berubah warna menjadi kuning atau oranye menandakan kakao sudah masak dan siap dipanen.
kunjungan kami ke Glenmore tidak bertepatan dengan musim panen kakao sehingga tidak banyak buah kakao yang masak. Panen besar mungkin baru tiba 4 bulan lagi yaitu pada bulan Desember. Pak Kamto selaku pemandu memberikan beberapa penjelasan seputar tanaman kakao. Sambil mendengarkan penjelasannya, kami amati kakao di sekitar kami, siapa tahu ada yang masak. Setelah mencari ke tengah perkebunan, akhirnya kami menemukan beberapa kakao yang sudah masak, wah… lega sekali rasanya.
kakao45
kakao46Pemandu menjelaskan seputar tanaman kakao
I. Pengolahan Buah Kakao
Setelah mengunjungi perkebunan, Pak Kamto mengajak kami ke tempat pengolahan kakao yang berada tidak jauh dari area perkebunan. Karena belum musim panen kakao, maka di tempat ini tidak ada proses apa pun. Meskipun demikian, Pemandu tetap menjelaskan proses pengolahan kakao mulai dari pencucian sampai pemanggangan.
Setelah dipetik, buah kakao dibuka dan diambil bijianya. Biji ini dikelompokkan menjadi dua yaitu edel dan bulk. Biji kakao kemudian difermentasikan selama tiga hari dalam kotak kayu berukuran 200 cm x 120 cm dengan tinggi 80 m. Fermentasi ini bertujuan untuk menghilangkan lendir pada biji kakao. Suhu fermentasi antara 25⁰C sampai 45⁰C. Setelah difermentasikan, biji kakao kemudian dicuci untuk membersihkan lendir-lendir yang masih menempel pada biji. Setelah itu ditiriskan kemudian dikeringkan selama 2 hari dengan suhu maksimum 70⁰C. Setelah kering kakao dipanggang selama 6 jam. Kemudian masing-masing jenis dipisahkan (disortir) berdasarkan standar mutu yang telah ditetapkan sehingga menjadi biji kakao kwalitas 1, kualitas 2, dan kualitas 3. Kakao yang telah disortir dimasukkan ke dalam karung dan disimpan di gudang. Kakao yang sudah dipanggang ini siap dikirim ke perusahaan lain untuk diproses menjadi cokelat. Biasanya kakao dari Glenmore ini dikirim ke perusahaan pembuat cokelat di Surabaya.
kakao35
kakao50Tempat dan standar suhu untuk fermentasi
kakao57
kakao58Tempat mencuci dan meniriskan kakao
kakao51kakao52Tempat dan standar suhu pengeringan kakao
kakao53kakao60
Alat pemanggangan kakao menggunakan bahan bakar kayu
kakao59kakao541Tempat sortir dan gudang penyimpanan kakao
Seandainya di Glenmore mengolah kakao hingga menjadi cokelat jadi, pasti sekarang ini kami sudah berlomba makan cokelat. Ya, seperti kunjungan ke Kebun kelapa, kami bisa langsung mencicipi dan membeli hasil pengolahan gula kelapa.
Koleksi foto tanaman kakao
More about → Perkebunan Kakao di Glenmore Banyuwangi

Perkebunan Cengkeh

Diposting oleh PERKEBUNAN_86

Perkebunan Cengkeh




Perkebunan Cengkeh [Referensi Link]

  1. Perkebunan cengkeh wisata
    Tanggal: Monday, 31 October 2011 02:41
    Konsep : Perkebunan cengkeh wisata LUAS : 20.000 m2, (SHM), Harga : 800ribu/m2 (nego) Hub, : Ludfi/Roni, HP 08129347672/082113185406 Dijual Perkebunan cengkehjenis zanzibar yg masih produktif diPemalang Jateng, ditanami 500 ...
  2. perkebunan cengkeh wisata
    Tanggal: Sunday, 30 October 2011 03:28
    Dijual perkebunan cengkeh jenis zanzibar yg masih produktif di Pemalang jateng LT. 20.000m (SHM) + 500 pohon cengkeh usia matang produktif +-15ton kering/panen.
  3. jual cepat tanah perkebunan cengkeh di bali « griyaidola.com
    Tanggal: Saturday, 29 October 2011 00:41
    Dijual tanah perkebunan cengkeh siap panen (sudah pernah panen) dekat jalan utama (bisa dialui 2pickup), sertifikat lengkap, tanah terasering (bukan jurang) Lokasi Desa Goblek, Banyuatis, Buleleng total 40are (harga ...
  4. JUAL KEBUN CENGKEH MURAH DAHSYATNYA - Bibit Kayu Jabon
    Tanggal: Monday, 26 September 2011 23:05
    Kawasan ini merupakan lahan bekas perkebunan cengkeh dengan total luas tanah mencapai 40 Ha. Status lahan ini sendiri sudah berupa SHM dan tidak sedang dalam sengketa dengan pihak manapun juga. Di atas lahan ...
  5. Koperasi Agrobisnis Sukajaya: JUAL Kebun cengkeh Super Murah ...
    Tanggal: Monday, 26 September 2011 01:44
    Minggu kemarin 25 Sept 2011 saya di panggil Mitra Bisnis saya di Patean Sukorejo Jateng utk cek ke lokasi lahan cengkeh yang mau di jual dan memang benar lokasi sangat bagus bekas perkebunan cengkeh udara dan ...
  6. JUAL: Perkebunan Gaharu dan Perkebunan Cengkeh « griyaidola ...
    Tanggal: Monday, 15 August 2011 22:10
    DIJUAL antara lain : 1. Perkebunan Cengkeh, Luas 6000 m2, 120 pohon, SHM, kapasitas panen 4 ton per tahun, harga 4 M. 2. Perkebunan Gaharu, Luas 2 Ha (20.000 m2), 1200 pohon, harga 25 M. 3. Bibit Gaharu, 20.000 ...

Google Videos - site:youtube com Perkebunan Cengkeh

  1. Perusahaan dijaga brimob.wmv
    Tanggal: Thursday, 02 December 2010 09:18

    mati (musnah), Diatas batang karet yang belum mati telah banyak tumbuh gulma/benalu, Tidak ada dilakukan peremajaan batang karet oleh perusahaan ...
  2. vidio dialog komisi a dgn buruh penderes karet pt.sir.wmv
    Tanggal: Thursday, 02 December 2010 09:12

    selayaknya yang mengurus hgu perkebunan ribuan hektar. HGU PT.SIR bukan perkebunan karet saja tetapi ada lebih kurang ratusan hektar kebun kelapa ...
  3. Breakfast at cikaso Karet.mp4
    Tanggal: Friday, 01 October 2010 14:25

    Exploring the hidden Paradise in southern of Sukabumi Regency - 21,22,23 Sept 2010 - Ujunggenteng, Cikaso dan Ciwaru ; the best view point in West ...
  4. KARET
    Tanggal: Sunday, 02 May 2010 08:22

    DESA SUSUKAN SALATIGA JAWA TENGAH INDONESIA
  5. Karet Untuk Kesejahteraan
    Tanggal: Thursday, 03 December 2009 05:19

    masyarakat melalui perkebunan karet untuk mengangkat perekonomian setempat ... karet "kebun karet" rubber hutan kalbar kalimantan borneo ...
  6. Seminar Teknologi Pupuk Di Palembang ( Part 01)
    Tanggal: Sunday, 04 January 2009 13:21

    dengan menurunnya harga produksi perkebunan masyarakat berupa sawit dan karet. Padahal kedua komoditi (karet dan kelapa sawit) bagi Sumatera ...

Key : Perkebunan Cengkeh 
More about → Perkebunan Cengkeh

PERKEBUNAN JERUK

Diposting oleh PERKEBUNAN_86


PERKEBUNAN JERUK

Wisata Agro | Kab. Bangka Selatan

Perkebunan Jeruk ini terletak di Desa Rias Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan, berjarak sekitar 10 km dari Kota Toboali dan untuk mencapai lokasi perkebunan ini dapat ditempuh selama 30 menit perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.
More about → PERKEBUNAN JERUK

Budidaya Tanaman Jahe ( Zingiber Officinale ) I

Diposting oleh PERKEBUNAN_86

Budidaya Tanaman Jahe ( Zingiber Officinale ) I

PENDAHULUAN
Jahe merupakan salah satu komoditas ekspor rempah-rempahIndonesia, disamping itu juga menjadi bahan baku obat tradisional maupun fitofarmaka, yang memberikan peranan cukup berarti dalam penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara. Sebagai komoditas ekspor dikemas berupa jahe segar, asinan (jahe putih besar), jahe kering (jahe putih besar, kecil dan jahe merah), maupun minyak atsiri dari jahe putih kecil (jahe emprit) dan jahe merah. Volume permintaannya terus meningkat seiring dengan permintaan produk jahe dunia serta makin berkembangnya industri makanan dan minuman di dalam negeri yang menggunakan bahan bakujahe.
Pada tahun 1998, ekspor jahe Indonesia mencapai 32.807 ton dengan nilai nominal US $ 9.286.161. Tahun 2003 turun menjadi 7.470 ton dengan nilai US $ 3.930.317 karena mutu yang tidak memenuhi standar. Namun permintaan jahe mengalami peningkatan setiap tahun. Kondisi ini diIndonesia, direspon dengan makin berkembangnya areal penanaman dan munculnya berbagai produk jahe. Pengembangan jahe skala luas sampai saat ini perlu didukung dengan upaya pembudidayaannya secara optimal dan berkesinambungan. Untuk mencapai tingkat keberhasilan budidaya yang optimal diperlukan bahan tanaman dengan jaminan produksi dan mutu yang baik serta stabil dengan cara menerapkan budidaya anjuran. Adanya penolakan ekspor jahe Indonesia di negara tujuan terutama Jepang, karena tingginya cemaran mikroorganisme, mengakibatkan anjloknya pendapatan petani jahe. Hal ini perlu segera diantisipasi dengan menerapkan budidaya anjuran terbaik diantaranya dengan penggunaan bahan tanaman sehat yang berasal dari varietas unggul. Selain itu, karena kualitas simplisia bahan baku industri hilir ditentukan oleh proses budidaya dan pascapanennya, maka pembakuan standar prosedur operasional (SPO) budidaya jahe dibuat guna mendukung GAP (Good Agricultural Practices).

PERSYARATAN TUMBUH
Untuk budidaya jahe diperlukan lahan di daerah yang sesuai untuk pertumbuhannya. Untuk pertumbuhan jahe yang optimal diperlukan persyaratan iklim dan lahan sebagai berikut : iklim tipe A, B dan C (Schmidt & ferguson), ketinggian tempat 300 - 900 m dpl., temperatur rata-rata tahunan 25 - 30ยบ C, jumlah bulan basah (> 100 mm/bl) 7 - 9 bulan per tahun, curah hujan per tahun 2 500 – 4 000 mm, intensitas cahaya matahari 70 - 100% atau agak ternaungi sampai terbuka, drainase tanah baik, tekstur tanah lempung sampai lempung liat berpasir, pH tanah 6,8 – 7,4. Pada lahan dengan pH rendah dapat diberikan kapur pertanian (kaptan) 1 - 3 ton/ha atau dolomit 0,5 – 2 ton/ha untuk meningkatkan pH tanah. Pada lahan dengan kemiringan > 3% dianjurkan untuk dilakukan pembuatan teras, teras bangku sangat dianjurkan bila kemiringan lereng cukup curam. Hal ini untuk menghindari terjadinya pencucian lahan yang mengakibatkan tanah menjadi tidak subur, dan benih jahe hanyut terbawa arus. Persyaratan lahan lainnya yang juga penting bagi penamaman jahe adalah lahan bukan merupakan daerah
endemik penyakit tular tanah (soil borne diseases) terutama bakteri layu dan nematoda. Untuk menjamin kesehatan lahan, sebaiknya lahan yang digunakan bukan bekas jahe, atau tidak ada serangan penyakit bakteri layu dilahan tersebut dan hanya dua kali berturut-turut ditanami jahe. Tahun berikutnya dianjurkan pindah tempat untuk menghindari kegagalan panen karena kendala penyakit dan adanya gejala allelopati.




BAHAN TANAMAN
Jahe (Zingiber officinale Rosc.; Ginger) adalah tanaman herbal tahunan yang tergolong famili Zingiberaceae, dengan daun berpasang-pasangan dua-dua berbentuk pedang, rimpang seperti tanduk, beraroma. Selama ini di Indonesia, berdasarkan pada bentuk, warna dan aroma rimpang serta komposisi kimianya dikenal 3 tipe jahe, yaitu jahe putih besar, jahe emprit dan jahe merah. Jahe putih besar (Z. officinale var. officinarum) mempunyai rimpang besar berbuku, berwarna putih kekuningan dengan diameter 8,47 – 8,50 cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang 6,20 – 11,30 dan 15,83 – 32,75 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri didalam rimpang 0,82 – 2,8%. Jahe putih kecil (Z. officinale var. amarum) mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, aroma tajam, berwarna putih kekuningan dengan diameter 3,27 – 4,05 cm, tinggi dan panjang rimpang 6,38 – 11,10 dan 6,13 – 31,70 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri 1,50 – 3,50%. Jahe merah (Z. officanale var. rubrum) mempunyai rimpang kecil berlapis, aroma sangat tajam, berwarna jingga muda sampai merah dengan diameter 4,20 – 4,26 cm, tinggi dan panjang rimpang 5,26 – 10,40 dan 12,33 – 12,60 cm, warna daun hijau muda, batang hijau kemerahan dengan kadar minyak atsiri 2,58 – 3,90%. Balittro telah melepas varietas unggul jahe putih besar (Cimanggu-1) dengan potensi produksi 17 - 37 ton/ha. Sedangkan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah rata-rata potensi produksinya masing-masing untuk jahe putih kecil adalah 16 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%. Sedangkan jahe merah potensi produksinya 22 ton/ha, kadar minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%.

PEMBENIHAN
Benih yang digunakan harus jelas asal usulnya, sehat dan tidak tercampur dengan varietas lain. Benih yang sehat harus berasal dari pertanaman yang sehat, tidak terserang penyakit. Beberapa penyakit penting pada tanaman jahe yang umum dijumpai, terutama jahe putih besar, adalah layu bakteri (Ralstonia solanacearum), layu fusarium (Fusarium oxysporum), layu rizoktonia (Rhizoctonia solani), nematode (Rhodopolus similis) dan lalat rimpang (Mimergralla coeruleifrons, Eumerus figurans) serta kutu perisai (Aspidiella hartii). Rimpang yang telah terinfeksi penyakit tidak dapat digunakan sebagai benih karena akan menjadi sumber penularan penyakit di lapangan. Pemilihan benih harus dilakukan sejak pertanaman masih di lapangan. Apabila terdapat tanaman yang terserang penyakit atau tercampur dengan jenis lain, maka tanaman yang terserang penyakit dan tanaman jenis lain harus dicabut dan dijauhkan dari areal pertanaman. Pemilihan (penyortiran) selanjutnya dilakukan setelah panen, yaitu di gudang penyimpanan. Pemeriksaan dilakukan untuk membuang benih yang terinfeksi hama dan penyakit atau membuang benih dari jenis lain. Rimpang yang akan digunakan untuk benih harus sudah tua minimal berumur 10 bulan. Ciri-ciri rimpang tua antara lain
kandungan serat tinggi dan kasar, kulit licin dan keras tidak mudah mengelupas, warna kulit mengkilat menampakkan tanda bernas. Rimpang yang terpilih untuk dijadikan benih, sebaiknya mempunyai 2 - 3 bakal mata tunas yang baik dengan bobot sekitar 25 - 60 g untuk jahe putih besar, 20 - 40 g untuk jahe putih kecil dan jahe merah. Kebutuhan benih per ha untuk jahe merah dan jahe emprit 1 – 1,5 ton, sedangkan jahe putih besar yang dipanen tua membutuhkan benih 2 - 3 ton/ha dan 5 ton/ha untuk jahe putih besar yang dipanen muda. Bagian rimpang yang terbaik dijadikan benih adalah rimpang pada ruas kedua dan ketiga. Sebelum ditanam rimpang benih ditunaskan terlebih dahulu dengan cara menyemaikan yaitu, menghamparkan rimpang di atas  jerami/alang-alang tipis, di tempat yang teduh atau di dalam gudang penyimpanan dan tidak ditumpuk. Untuk itu biasa digunakan wadah atau rak-rak terbuat dari bambu atau kayu sebagai alas. Selama penyemaian dilakukan penyiraman setiap hari sesuai kebutuhan, untuk menjaga kelembaban rimpang. Benih rimpang bertunas dengan tinggi
tunas yang seragam 1 - 2 cm, siap ditanam di lapangan dan dapat beradaptasi langsung, juga tidak mudah rusak. Rimpang yang sudah bertunas tersebut kemudian diseleksi dan dipotong menurut ukuran. Untuk mencegah infeksi bakteri, dilakukan perendaman didalam larutan antibiotik dengan dosis anjuran. Kemudian dikering anginkan.

BUDIDAYA
Untuk mencapai hasil yang optimal didalam budidaya jahe putih besar, jahe putih kecil maupun jahe merah, selain menggunakan varietas unggul yang jelas asal usulnya perlu diperhatikan juga cara budidayanya.

Persiapan lahan
Sebelum tanam dilakukan pengolahan tanah. Tanah diolah sedemikian rupa agar gembur dan dibersihkan dari gulma. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara menggarpu dan mencangkul tanah sedalam 30 cm, dibersihkan dari ranting-ranting dan sisa-sisa tanaman yang sukar lapuk. Untuk tanah dengan lapisan olah tipis, pengolahan tanahnya harus hati-hati disesuaikan dengan lapisan tanah tersebut dan jangan dicangkul atau digarpu terlalu dalam sehingga tercampur antara lapisan olah dengan lapisan tanah bawah, hal ini dapat mengakibatkan tanaman kurang subur tumbuhnya. Setelah tanah diolah dan digemburkan, dibuat bedengan searah lereng (untuk tanah yang miring), sistim guludan atau dengan sistim pris (parit). Pada bedengan atau guludan kemudian dibuat lubang tanam. 

Jarak tanam
Benih jahe ditanam sedalam 5 - 7 cm dengan tunas menghadap ke atas, jangan terbalik, karena dapat menghambat pertumbuhan. Jarak tanam yang digunakan untuk penanaman jahe putih besar yang dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil dan jahe merah 60 cm x 40 cm.

Pemupukan
Pupuk kandang domba atau sapi yang sudah masak sebanyak 20 ton/ha, diberikan 2 - 4 minggu sebelum tanam. Pada umur 4 bulan setelah tanam dapat pula diberikan pupuk kandang ke dua sebanyak 20 ton/ha.

Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik.

a. Penyiangan gulma
Sampai tanaman berumur 6 - 7 bulan banyak tumbuh gulma, sehingga penyiangan perlu dilakukan secara intensif secara bersih. Penyiangan setelah umur 4 bulan perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran yang dapat menyebabkan masuknya benih penyakit. Untuk mengurangi intensitas penyiangan bisa digunakan mulsa tebal dari jerami atau sekam.

b. Penyulaman
Menyulam tanaman yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1 – 1,5 bulan setelah tanam dengan memakai benih cadangan yang sudah diseleksi dan disemaikan.

c. Pembumbunan
Pembumbunan mulai dilakukan pada saat telah terbentuk rumpun dengan 4 - 5 anakan, agar rimpang selalu tertutup tanah. Selain itu, dengan dilakukan pembumbunan, drainase akan selalu terpelihara.

Pengendalian hama penyakit dilakukan sesuai dengan keperluan. Penyakit utama pada jahe adalah busuk rimpang yang disebabkan oleh serangan bakteri layu (Ralstonia solanacearum). Sampai saat ini belum ada metode pengendalian yang memadai, kecuali dengan menerapkan tindakan-tindakan untuk mencegah masuknya benih penyakit, seperti penggunaan lahan sehat, penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (antibiotik), menghindari perlukaan (penggunaan abu sekam), pergiliran tanaman,
pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi supaya tidak ada air menggenang dan aliran air tidak melalui petak  sehat (sanitasi), inspeksi kebun secara rutin. Tanaman yang terserang layu bakteri segera dicabut dan dibakar untuk menghindari meluasnya serangan OPT. Hama yang cukup signifikan adalah lalat rimpangMimergralla coeruleifrons (Diptera, Micropezidae) dan Eumerus figurans(Diptera, Syrpidae), kutu perisai (Aspidiella hartii) yang menyerang rimpang mulai dari pertanaman dan menyebabkan penampilan rimpang kurang baik serta bercak daun yang disebabkan oleh cendawan (Phyllosticta sp.). Serangan penyakit ini apabila terjadi
pada tanaman muda (sebelum 6 bulan) akan menyebabkan penurunan produksi yang cukup signifikan. Tindakan mencegah perluasan penyakit ini dengan menyemprotkan fungisida segera setelah terlihat ada serangan (diulang setiap minggu sekali), sanitasi tanaman sakit, inspeksi secara rutin.

POLA TANAM
Untuk meningkatkan produktivitas lahan, jahe dapat ditumpangsarikan dengan tanaman pangan seperti kacang-kacangan dan tanaman sayuran, sesuai dengan kondisi lahan.

PANEN
Panen untuk konsumsi dimulai pada umur 6 sampai 10 bulan. Tetapi, rimpang untuk benih dipanen pada umur 10 - 12 bulan. Cara panen dilakukan dengan membongkar seluruh rimpangnya menggunakan garpu, cangkul, kemudian tanah yang menempel dibersihkan. Dengan menggunakan varietas unggul jahe putih besar (Cimanggu-1) dihasilkan rata-rata 27 ton rimpang segar, calon varietas unggul jahe putih kecil (JPK 3; JPK 6) dengan cara budidaya yang direkomendasikan, dihasilkan rata-rata 16 ton/ha rimpang segar dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%. Sedangkan jahe merah 22 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%. Mutu rimpang dari varietas unggul Cimanggu-1 dan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah, memenuhi standar Materia Medika Indonesia (MMI). Berdasarkan standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar dikatagorikan sebagai berikut: Mutu I : bobot 250 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang; Mutu II : bobot 150 - 249 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang; Mutu III : bobot sesuai hasil analisis, kulit yang terkelupas maksimum 10%, benda asing maksimum 3%, kapang maksimum 10%

PASCA PANEN
Tahapan pengolahan jahe meliputi penyortiran, pencucian, pengirisan, pengeringan, pengemasan dan penyimpanan. Setelah panen, rimpang harus secepatnya dibersihkan untuk menghindari kotoran yang berlebihan serta mikroorganisme yang tidak diinginkan.
Rimpang dibersihkan dengan disemprot air yang bertekanan tinggi, atau dicuci dengan tangan. Setelah pencucian, rimpang dianginanginkan untuk mengeringkan air pencucian. Untuk penjualan segar, jahe dapat langsung dikemas. Tetapi bila diinginkan dalam bentuk kering atau simplisia, maka perlu dilakukan pengirisan rimpang setebal 1 – 4 mm. Untuk mendapatkan simplisia dengan tekstur menarik, sebelum diiris rimpang direbus beberapa menit sampai terjadi proses gelatinisasi Rimpang yang sudah diiris, selanjutnya dikeringkan dengan energi surya atau dengan pengering buatan/oven pada suhu 36 – 46° C. Bila kadar air telah mencapai sekitar 8 - 10%, yaitu bila rimpang bisa dipatahkan, pengeringan telah dianggap cukup. Selain itu, dikenal jahe kering gelondong (jahe putih kecil dan jahe merah) yang diproses dengan cara rimpang jahe utuh ditusuk-tusuk agar air keluar sebagian, kemudian dijemur dengan energi matahari atau dioven sampai kering atau kadar air mencapai 8 - 10%. Rimpang kering dapat dikemas dalam peti, karung atau plastik yang kedap udara, dan dapat disimpan dengan aman, apabila kadar airnya rendah. Ruang penyimpan harus diperhatikan sanitasinya, berventilasi baik, dengan suhu ruangan yang rendah dan kering untuk mencegah pencemaran oleh mikroba dan hama gudang.

PENGANEKARAGAMAN PRODUK
Selain simplisia, dari rimpang jahe dapat diperoleh minyak atsiri, oleoresin, bubuk, jahe asinan, jahe dalam sirup, manisan jahe, jahe kristal dan anggur jahe. Asinan jahe merupakan bahan ekspor yang potensial, dibuat dari jahe putih besar yang dipanen muda (3 bulan), dengan kadar serat rendah. Sedangkan permen jahe, manisan, sirup, instant, serbat dan sekoteng berasal dari jahe putih kecil yang dipanen tua. Selain untuk bahan baku obat tradisional (jamu), jahe sudah mulai digunakan untuk obat fitofarmaka karena kandungan gingerolnya. Bahan aktif ini diisolasi dari ekstrak jahe yang bermanfaat untuk mengatasi rasa nyeri pada tulang, otot dan sendi.

More about → Budidaya Tanaman Jahe ( Zingiber Officinale ) I